Kenapa sih Harus Selingkuh?

0
84

Hai #KawanManu! Kamu menonton web series Layangan Putus, nggak? Gemes banget melihat Aris selingkuh dari Kinan. Padahal, Kinan sosok perempuan yang mandiri, punya pendidikan yang baik, bisa mengurus keluarga dengan baik, dan pokoknya perfect lah. Namun, kondisi ini tidak hanya ada di web series lho. Masih ingat nggak beberapa waktu lalu, banyak public figure yang mengalami kasus perselingkuhan. Hal ini membuat kita berpikir, “Dia cantik, baik, terkenal, kaya, dan perfect itu aja jadi korban perselingkuhan, bagaimana dengan aku?” Atau mungkin #KawanManu malah pernah punya pasangan yang selingkuh dan membuat kamu insecure dan tidak percaya diri untuk menjalin hubungan baru?

Pengalaman diselingkuhi merupakan salah satu pengalaman emosional paling menyakitkan yang orang dewasa alami. Saat seseorang mengetahui pasangannya selingkuh biasanya mereka mengalami linglung, terkejut, marah, sedih, dan denial. Pikiran dan perasaannya seperti roller coaster yang berubah drastis dari satu momen ke momen berikutnya. Mereka berusaha berjuang untuk mengetahui bagaimana mereka memberikan reaksi akan kejadian tersebut. Bagaimana membayangkan dan memikirkan ke depannya, bahkan bingung apakah dirinya harus tetap mempertahankan hubungan atau memutuskannya, atau apakah bisa menjalani hidup tanpa dia.

Baca Juga: Bolehkah Kita Melakukan Perselingkuhan?

Penyebab Seseorang Berselingkuh

Banyak penyebab laki-laki atau perempuan yang akhirnya memilih untuk selingkuh. Secara garis besar mereka memilih selingkuh karena:

  1. Ketidakdewasaan, sehingga mereka tidak mampu untuk menjaga komitmen dalam hubungan. Apabila ada masalah mereka lebih memilih untuk menghindarinya dengan mencari kesenangan pada hubungan lain daripada menyelesaikannya.
  2. Trauma masa kecil yang belum terselesaikan, seperti pengabaian, pelecehan emosional, fisik, maupun seksual. Hal ini dapat menimbulkan masalah pada keterikatan dan keintiman sehingga enggan berkomitmen penuh dengan satu orang.
  3. Harga diri yang rendah membuat ego menjadi rapuh, sehingga untuk memperkuat ego mereka mencari validasi dari orang lain ketika tidak mereka dapatkan dari pasangan. Mereka mencari seseorang yang bisa membuatnya merasa berharga, diinginkan, dan dicintai. 
  4. Menjadikan perselingkuhan sebagai cara untuk mengeksplorasi diri dengan mencoba mendekati atau menjalin hubungan lain.

Selingkuh adalah Hal yang Merugikan

Apapun alasannya tetap saja memilih selingkuh adalah hal yang salah karena akan merugikan dan menyakitkan bagi korban perselingkuhan. Saat pasanganmu berselingkuh, maka itu bukan kesalahanmu dan tak perlu bertanggung jawab atas hal itu. Walaupun alasannya karena hubungan kalian sedang bermasalah, tetap saja selingkuh itu bukan cara menyelesaikan masalah justru menambah masalah. Padahal, pasanganmu bisa mengajak untuk berdiskusi bersama terkait permasalahan dalam hubungan kalian dan mencari solusinya. Atau bisa melakukan mediasi bersama orang lain seperti keluarga, sahabat, atau konselor pasangan.

Dalam kasus perselingkuhan yang menjadi korban harus berhati-hati. Sering kali orang yang berselingkuh akan berusaha memanipulasi keadaan dengan membolak-balik fakta yang membuat korban merasa bersalah dan seakan yang berselingkuh adalah kamu. Mereka yang selingkuh juga akan menyalahkan orang lain atau apapun selain diri mereka sebagai taktik merasionalisasikan dan membenarkan perilaku mereka. Selain itu, mereka juga menampilkan perilaku denial atas serangkaian kebohongan mereka selama ini.

Tindakan perselingkuhan oleh pasangan bisa saja membuat kamu menjadi tidak percaya diri, merasa tidak berharga, dan merasa diri sendiri kurang. Tapi, percayalah bahwa kamu tetap berharga. Mengalami perselingkuhan tentu membutuhkan dukungan emosional yang lebih besar, maka tidak ada salahnya untuk kamu mencari dukungan dari orang-orang terdekatmu atau kamu juga bisa konseling dengan psikolog di manusiabiasa. Layanan konseling ini dibantu oleh para psikolog profesional, jangan lupa daftarkan diri kamu ya!

Baca juga: Hati-hati Terjebak One-Sided Relationship!

Penulis   : Hayatun Nufus

Sumber  :