Apakah saya normal? Let’s talk about mental disorder, unromantically

0
137

Pernahkah #KawanManu mencari informasi tentang “gangguan mental” melalui media sosial? Pada masa sebelumnya, hal-hal terkait gangguan mental sering diasosiasikan dengan stigma menakutkan dan berbahaya. Akan tetapi, saat ini semakin banyak konten digital yang menggambarkan gangguan mental justru sebagai kondisi yang baik, menarik, dan bahkan memiliki nilai estetis. Seperti misalnya foto individu depresi yang menulis, “Saya pikir orang-orang yang bunuh diri adalah malaikat yang ingin pulang”. Bahkan terdapat pengguna media sosial yang secara eksplisit menuliskan bahwa cita-citanya adalah ingin mengalami gangguan mental.

Melalui talkshow “Apakah saya normal? Let’s talk about mental disorder, unromantically”, Manusiabiasa bekerja sama dengan KJF Kesehatan Mental Departemen Psikologi Universitas Brawijaya mengajak para peserta berbincang edukasi deromantisasi gangguan mental. Talkshow dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 Agustus 2022 Pukul 12.30-15.00 WIB melalui Zoom Meeting dan dihadiri oleh 115 peserta dari berbagai kota. Talkshow ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat rutin yang didanai oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Ada tiga pemateri yang dilibatkan,  yaitu Immanuela I Wulandari, S.Psi. (koordinator konselor sebaya manusiabiasa.id), Dita Rachmayani., S.Psi., M.A. (Dosen Psikologi Universitas Brawijaya dan pakar kesehatan mental), serta Cleoputri Yusainy, M.Psi, Ph.D, Psikolog (Dosen Psikologi Universitas Brawijaya dan pakar mindfulness).

Talkshow diawali dengan paparan Dita tentang kesehatan mental. Menurutnya, sejalan dengan definisi World Health Organization (WHO, 2004), individu yang sehat mental juga ditandai dengan keadaan sehat secara fisik, psikologis, dan sosial serta mampu mengembangkan baik untuk dirinya sendiri maupun masyarakat. Kesehatan mental bukan hanya bermakna ketiadaan gangguan mental pada diri individu, namun juga bagaimana cara berpikir dan perilaku individu yang bermanfaat adaptif bagi diri sendiri dan orang lain.

Lalu apakah tiap orang dapat mengalami gangguan mental? Dita menjelaskan bahwa risiko tiap orang untuk mengalami gangguan mental tegantung pada kombinasi antara faktor risiko dan faktor protektif. Faktor risiko mencakup misalnya faktor biologis yaitu adanya riwayat terjadinya gangguan mental dari keluarga, faktor pengalaman misalnya permasalahan relasi antara anak dengan orang tua, atau relasi dengan teman sebaya yang buruk. Sementara faktor protektif yang dapat menurunkan faktor risiko tersebut misalnya individu memiliki strategi regulasi emosi yang adaptif, memiliki koping stres yang baik, serta hubungan dengan orang tua maupun dengan teman sebaya yang saling mendukung. Kombinasi faktor risiko dan protektif ini bersifat cair, dalam arti selalu mengalami perubahan. Akibatnya pada titik tertentu individu mungkin mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya yang menimbulkan problem psikologis tertentu. Dari sini individu justru mampu belajar menghadapi dan mencari solusi dari permasalahan tersebut. Namun demikian, problem psikologis sehari-hari  tidak serta-merta akan menciptakan gangguan mental.

Baca juga : Lakukan 5 hal ini saat temanmu sedang curhat

Sejalan pendapat Dita, Wulan menjelaskan bahwa saat ini semakin banyak individu yang berani melakukan diagnosis gangguan mental terhadap diri sendiri. Saat mendaftarkan konseling, misalnya, ada calon konseli yang secara langsung menuliskan bahwa dirinya mengalami depresi, gangguan kecemasan, ataupun diagnosis lainnya. Padahal di sisi lain, calon konseli tersebut belum pernah menerima diagnosis dari psikolog ataupun psikiater. Berdasarkan pengalaman tersebut, Wulan menyadari bahwa masyarakat kini sudah memahami tentang gangguan mental, namun keterbukaan arus informasi tersebut membuka peluang pada usaha individu melakukan diagnosis terhadap dirinya sendiri. Diagnosis yang tidak dilakukan oleh profesional tentunya tidak dapat dijadikan dasar untuk pemberian intervensi yang tepat kepada individu. Selain itu, diagnosis diri dapat memicu munculnya romantisasi atas gangguan mental.

Baca juga : Bahaya self diagnose

Cleo melanjutkan bahwa ada perbedaan mendasar antara romantisasi gangguan mental yang dilakukan secara tradisional vs. melalui media sosial. Media sosial bersifat seperti echo-chamber, sehingga memfasilitasi individu untuk menimbun informasi dan pertemanan digital yang sesuai dengan keinginannya saja. Hal ini misalnya tampil dalam bentuk bias konfirmasi ketika individu memilih beberapa gejala gangguan mental yang menurutnya keren, kekinian, dan sejenisnya. Selain itu, platform media sosial sangat mengutamakan user-engagement. Akibatnya konten apapun, termasuk tentang gangguan mental, yang diasosiasikan dengan perasaan positif dan mendekat menjadi lebih menarik bagi pengguna media sosial daripada konten serupa yang menimbulkan perasaan negatif dan menjauh.

Ironisnya, beragam bentuk romantisasi gangguan mental tersebut dapat dianggap sebagai bentuk dukungan bahwa gejala gangguan mental merupakan hal yang wajar. Komunitas digital bisa jadi mengalami habituasi terhadap kemungkinan individu dengan gangguan mental untuk menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Dalam jangka panjang, individu yang sungguh-sungguh mengalami gangguan mental justru menjadi kesulitan mencari bantuan, karena dianggap hanya mencari perhatian atau ikut tren saja. Cleo menutup paparannya dengan menyatakan bahwa jargon populer seperti mencintai diri sendiri (self love) ataupun self-healing bukanlah solusi terhadap persoalan gangguan mental. Ia juga mengajak peserta untuk lebih mindful terhadap konten media sosial, agar tidak terburu-buru melekatkan label gangguan mental dan belajar bersikap lembut kepada diri sendiri. Berdasarkan evaluasi kegiatan, sebagian besar peserta menyatakan mendapatkan manfaat dari materi yang diberikan dalam bentuk acara yang dikemas secara interaktif. Peserta juga berharap agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin. Secara keseluruhan melalui talkshow ini, diharapkan pemahaman komunitas digital terhadap kesehatan dan gangguan mental akan meningkat, utamanya dengan cara meminimalkan romantisasi terhadap gangguan mental. Rekaman kegiatan talkshow dapat dilihat di bawah ini.

Penulis : Universitas Brawijaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here