Toxic Positivity, Ketika Positive Vibes Bisa Jadi Sesat

0
62

“Yok Semangat yokkk! Yokk bisa yokkk”, berusaha menyemangati diri sendiri di saat mood berantakan, dan pengen menyerah tapi gak bisa. Kawan bercerita pernah mengalami gak?

Kita tidak lagi asing dengan kalimat penyemangat dari diri sendiri atau  siapapun di sekitar kitai. Hidup dengan penuh semangat dan punya pikiran yang positif adalah kunci dari ketenangan. Namun sama seperti cuaca sehari-hari yang kadang hujan tapi juga kadang panas terik, hidup kita tentunya punya banyak peristiwa dan kejadian yang menimbulkan perasaan yang kompleks. 

Hidup dengan semangat dan pikiran positif tentunya merupakan hal yang baik. Tapi terkadang kita lupa, hanya ingin melihat hal-hal yang baik atau positif saja. Gak boleh galau, gak boleh sedih, gak boleh marah. Akhirnya, kita mungkin menghindari atau menolak mengakui jika perasaan negatif semacam marah, sedih, atau kecewa sebenarnya sedang kita rasakan.

Baca juga : Apakah Bersyukur adalah Kunci dari Kebahagiaan?

Toxic positivity mungkin jadi isu yang sering Kawan Bercerita dengar belakangan ini. Istilah ini untuk mendeskripsikan kita yang selalu ingin merasa bahagia dan bersemangat dalam segala situasi. Tanpa sadar, kita justru tidak ingin melihat dan menerima kenyataan yang sebenarnya. Kita secara tidak langsung sedang melarikan diri dari masalah atau mengabaikan perasaan negatif yang sebenarnya kita rasakan. 

Kita juga sering merasa bersalah saat kita sedang merasa kesal, marah, kecewa, atau sedih pada waktu tertentu. Kita mengabaikan atau mengubur perasaan yang kita anggap negatif dan buru-buru menggantinya dengan optimisme atau perasaan positif. Padahal, tidak apa-apa loh untuk merasa sedih dan kehilangan, saat kamu menerima notifikasi jika kamu belum lulus SBMPTN tahun ini atau kehilangan kucing kesayanganmu. It’s okay not to be okay.

Baca juga : 5 Tips untuk Mengurai Pikiran Negatif

Nah, saat kita jadi “terlalu positif”, kita bisa saja menularkan toxic positivity ini pada orang lain loh. Kita secara gak sadar menasihati orang lain lewat quotes yang terlihat positif, misalnya “positive vibes only” atau justru membandingkan situasi orang lain sekarang dengan kondisi yang lebih buruk. 

Kawan Bercerita, bayangin deh jika kita terus menimbun perasaan negatif kita dan hanya memilih untuk menikmati hidup lewat perasaan positif saja. Bukankah kita sama saja sedang menghindar dan memilih untuk tidak belajar menghadapi tantangan dan menyelesaikan masalah? Lalu, kapan kita bisa belajar untuk menjadi lebih tangguh?  

Gimana sih caranya kita menghindari toxic positivity yang mungkin tanpa sadar kita lakukan ke diri kita sendiri? 

  • Pertama, penting untuk menyadari perasaan kita yang sesungguhnya. Apakah kita merasa termotivasi saat mendengar kalimat motivasi dan penyemangat atau justru merasa bersalah? Selain itu, yuk belajar untuk menjadi lebih realistis terhadap apa yang sedang kita rasakan. 
  • Ingatlah bahwa kita dapat merasakan banyak hal dan tidak ada yang salah tentang itu. Kita bebas mengakui perasaan yang kita rasakan. Saat kita merasakan emosi negatif, cobalah untuk mengelola emosi kita ketimbang mengabaikan atau menguburnya dalam-dalam. 
  • Validasi perasaan kita sendiri dan orang lain di sekitar kita. Kemampuan ini dapat dilatih perlahan kok. Belajarlah untuk menghargai perasaan dan emosi kita ataupun orang lain. Saat saling berbagi cerita, pertimbangkan perspektif kita yang berbeda dengan orang lain. 
  • Selain itu, cobalah untuk membuat kalimat penyemangat yang lebih bijak, misalnya “kadang hal buruk bisa saja terjadi, apa yang bisa ku bantu?” Dengan kalimat non-toxic positivity, kita jadi tidak buru-buru mendorong orang lain untuk merasakan optimisme atau perasaan positif saja.

Baca juga : Crab Mentality, Si Egois yang Tak Mau Orang Lain Sukses

Setiap perasaan yang bisa kita rasakan adalah valid, tidak benar dan juga tidak salah. Ada kalanya, kita juga bisa belajar dari perasaan negatif yang mungkin timbul. Mengabaikan perasaan negatif kita hanyalah mencoba melupakan ketidaknyamanan yang sebenarnya masih ada. Kawan Bercerita, yuk belajar berani untuk menghadapi dan berjuang menghindari toxic positivity

Penulis: Sherin Flaurensia

Referensi: 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here